5 Hal Yang Harus Diperhatikan Sebelum Mengajukan Pinjaman Online

Sunday, November 25, 2018
Hai moms,



Pernah tidak merasa risih ketika mendapatkan pesan masuk di handphone berupa ajakan untuk mengajukan pinjaman uang secara online? Apalagi pesan dikirim dari nomor telepon yang tidak kita kenal. Biasanya janji manis seperti bunga 0% dan proses cepat, menjadi jurus utama mereka. Sehingga, di zaman yang serba digital ini kita memang dituntut untuk lebih smart terhadap berita dan informasi apapun yang kita terima.

Karena merasa takut dan khawatir tergiur berbagai tawaran pinjaman akhir-akhir ini, saya memutuskan untuk menghadiri acara #NgobrolTempo yang diadakan oleh Tempo dengan tema "Sosialiasi Program Fintech Peer to Peer Lending, Kemudahan dan Risiko untuk Konsumen" di Beka Resto - Balai Kartini, Jakarta pada tanggal 23 November kemarin.

Perkembangan Fintech di Indonesia



Bicara soal pinjaman online, pernah nggak sih mendengar istilah Fintech? Fintech berasal dari dua kata yang digabung yaitu Financial dan Technology. Jadi bisa dibilang Fintech adalah sebuah layanan jasa keuangan berbasis teknologi informasi yang saat ini hadir di negeri kita. Perkembangan fintech sejak tahun 2006 semakin bertambah setiap tahunnya di Indonesia. Bahkan angkanya mencapai US$15,02 miliar.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa pinjaman online dari tahun ke tahun di Indonesia selalu meningkat peminatnya. Hal inilah yang membuat Otoritas Jasa keuangan (OJK) merasa perlu untuk memberikan informasi terkait perusahaan-perusahaan apa saja yang sudah terdaftar di OJK. 

Dalam acara #NgobrolTempo kemarin, beberapa narasumber yang hadir antara lain:


  1. Bapak Hendrikus Passagi selaku Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK
  2. Bapak Tumbur Pardede selaku Ketua Bidang Kelembagaan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) juga CEO & Founder FINTAG
  3. Bapak Zulfitra Agusta selaku Chief Commercial Officer Crowdo Indonesia
  4. Bapak Surya Wijaya selaku Chief Information Officer KlikAcc, dan
  5. Bapak Ali Nuryasin selaku moderator.

Pertumbuhan fintech di Indonesia hingga tahun 2018 ini terus berkembang ke beberapa kategori yang erat kaitannya dengan semua transaksi masyarakat. Seperti Pendanaan, Pembayaran, Perbankan, Asuransi,  Pasar Modal hingga jasa pendukung lainnya.



Menurut Bapak Tumbur Pardede, perkembangan fintech sebenarnya banyak memberikan manfaat, baik itu untuk konsumen, pembisnis, maupun secara ekonomi. Berdasarkan data dari OJK sesuai dengan peraturan OJK No. 77 tahun 2016, bahwa ada 73 perusahaan fintech yang sudah terdaftar secara resmi di OJK per 8 Oktober 2018. Dimana ada 71 perusahaan fintech konvensional dan 2 lagi merupakan fintech yang berbasis syariah. Untuk mengecek daftar nama perusahaan fintech ini bisa dilihat langsung daftarnya di websitenya OJK.

"Perusahaan-perusahaan tersebut untuk saat ini masih berdomisili Jabodetabek dan Bandung. Namun jumlah itu masih dapat berubah seiring bertambahnya waktu mengingat jumlah peminatnya saja terus bertambah dari hari ke hari. Bahkan jumlah akun yang sudah bertransaksi saja mencapai angka 7.226.063 hingga saat ini," tambah Bapak Hendrikus Passagi.

Bagaimana Ciri-Ciri Fintech Ilegal?


Maraknya tawaran dari berbagai perusahaan-perusahaan tersebut kepada masyarakat, secara langsung memang mengharuskan kita mengenali perusahaan apa saja yang legal dan terdaftar di OJK ya, Moms. Berikut ciri-ciri Fintech P2P Lending Ilegal:

  1. Alamat kantor tidak jelas dan disamarkan.
  2. Persyaratan sangat mudah dan proses cepat.
  3. Bunga dan denda sangat tinggi.
  4. Menyalin seluruh data nomor telepon dan foto dari handphone peminjam.
  5. Melakukan penagihan online dengan cara intimidasi dan mempermalukan peminjam melalui seluruh nomor telepon yang disalin.

Mau Pinjam Uang Online?



Jika saat ini Moms berfikir untuk mengajukan pinjaman online melalui perusahaan fintech peer to peer lending, perhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Perhatikan nominal pinjaman dan sesuaikan dengan kemampuan membayarnya
  2. Cek legalitas perusahaan fintech tersebut
  3. Perhatikan baik-baik semua persyaratan dan ketentuan seperti denda dan bunga
  4. Lakukan perbandingan antara satu perusahaan dengan perusahaan fintech lainnya.
  5. Jika menemukan kejanggalan atau masalah dengan perusahaan tersebut, maka bisa dilaporkan ke Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan OJK.

Sebenarnya, kehadiran fintech peer to peer lending merupakan salah satu akses pendanaan yang mudah dan cepat yang bisa jadi pilihan masyarkat karena semuanya bisa dilakukan dengan mudah dan cepat berkat kecanggihan teknologi yang ada saat ini. Tapi sebagai masyarakat kita juga tetap harus waspada terhadap berbagai tawaran pinjaman online tersebut ya, Moms.

Semoga informasi ini bermanfaat ya, Moms. Dan tetap waspada terhadap seluruh informasi yang didapatkan di era digital ini.
Post Comment
Post a Comment

Thank you for visiting my blog. I am very happy if you leave comments, feedback, suggestions, or criticism. As a passion for me, to be able to write better. Happy Reading!